Saat Seni Menjadi Ruang Pulih: Dosen BK UNS Latih Konselor Sebaya dengan Art-Therapy

Saat Seni Menjadi Ruang Pulih: Dosen BK UNS Latih Konselor Sebaya dengan Art-Therapy
peserta mengikuti pelatihan media berbasis art-therapy secara berkelompok dengan menggunakan reflective diary, gambar, dan catatan reflektif untuk mengembangkan keterampilan konseling sebaya.

Surakarta, Jawa Tengah — Tim dosen Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sebelas Maret (UNS) menggelar kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertajuk “Pelatihan Media Berbasis Art Therapy bagi Konselor Sebaya” di Universitas Sebelas Maret, Surakarta, Sabtu (18/7).


Kegiatan ini dilaksanakan oleh Santy Andrianie, M.Pd., selaku ketua tim, bersama Arifah Wulandari, M.Pd., dan Elwas Berdha Krismona, M.Pd. Pelatihan tersebut bertujuan memperkuat kompetensi konselor sebaya dalam menggunakan media seni kreatif sebagai sarana refleksi, komunikasi, dan pendampingan mahasiswa.

Konselor sebaya memiliki posisi strategis sebagai pendamping awal bagi mahasiswa yang menghadapi persoalan akademik, sosial, maupun emosional. Kedekatan usia dan pengalaman membuat konselor sebaya lebih mudah dijangkau oleh mahasiswa yang membutuhkan ruang aman untuk bercerita. Oleh karena itu, mereka perlu dibekali tidak hanya dengan kemampuan mendengarkan, tetapi juga dengan keterampilan menggunakan media pendampingan yang kreatif, empatik, dan sesuai dengan kebutuhan mahasiswa.

Pelatihan diawali dengan materi mengenai resiliensi emosional dan sosial yang disampaikan oleh Santy Andrianie, M.Pd. Pada sesi ini, peserta diajak memahami pentingnya kemampuan mengelola emosi, membangun hubungan sosial yang sehat, serta menghadapi tekanan secara adaptif. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan praktik penggunaan reflective diary berbasis art therapy yang dipandu oleh Elwas Berdha Krismona, M.Pd. Melalui kegiatan menulis, menggambar, memilih simbol, dan menyusun refleksi, peserta belajar memanfaatkan ekspresi kreatif untuk membantu mahasiswa mengenali serta mengomunikasikan pikiran dan perasaannya.


Pada sesi akhir, Arifah Wulandari, M.Pd. memandu evaluasi dan penguatan kompetensi peserta. Evaluasi dilakukan untuk memastikan bahwa para konselor sebaya tidak hanya memahami konsep yang diberikan, tetapi juga mampu menerapkannya secara tepat dalam layanan pendampingan sebaya.

Melalui pelatihan ini, konselor sebaya di lingkungan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UNS diharapkan mampu menghadirkan layanan yang lebih reflektif, kreatif, dan berorientasi pada kebutuhan mahasiswa. Penggunaan reflective diary berbasis art therapy juga diharapkan dapat menjadi alternatif media bagi mahasiswa yang belum nyaman menyampaikan pengalaman emosionalnya secara langsung.

Kegiatan tersebut turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) 3, yaitu Good Health and Well-being, serta SDGs 4, yaitu Quality Education. Dengan meningkatnya kompetensi konselor sebaya, lingkungan perguruan tinggi diharapkan semakin responsif dalam mendukung kesehatan mental dan kesejahteraan mahasiswa.

  • 0 Comment(s)