TAK PERLU TUNGGU KORBAN BICARA, DOSEN BK UNS KEMBANGKAN DETEKSI DINI PERUNDUNGAN DI SEKOLAH
SURAKARTA – Perundungan di
sekolah tidak selalu mudah terlihat. Ejekan berulang, pengucilan, penyebaran
rumor, ancaman, kekerasan fisik, hingga perundungan digital dapat berlangsung
tanpa diketahui guru maupun orang tua. Tidak sedikit korban memilih diam karena
takut, malu, atau khawatir mendapat tindakan balasan. Kondisi inilah yang
mendorong dosen Bimbingan dan Konseling Universitas Sebelas Maret (BK UNS)
mengembangkan pendekatan deteksi dini yang tidak hanya menunggu laporan korban,
tetapi membaca tanda-tanda risiko melalui perilaku dan relasi sosial siswa.
Tim penelitian diketuai Santy
Andrianie, M.Pd., bersama Arifah Wulandari, S.Pd., M.Pd., Kusmira Dwi
Ayuani, M.Pd., dan Elwas Berdha Krismona, M.Pd. Pendekatan yang dikembangkan
memadukan asesmen perilaku perundungan dengan pemetaan sosiometrik. Melalui
cara ini, guru BK dapat memperoleh gambaran mengenai siswa yang banyak diterima
dalam kelompok, kurang memperoleh penerimaan, cenderung terisolasi, mengalami
penolakan, maupun berada dalam pola relasi sosial yang berpotensi berkaitan
dengan perundungan. Asesmen juga mencakup perundungan verbal, fisik, sosial atau
relasional, serta digital.
“Kasus perundungan umumnya tidak muncul secara tiba-tiba. Sebelum berkembang menjadi tindakan yang lebih serius, sering terdapat tanda-tanda berupa perubahan pola pertemanan, penolakan sosial, pengucilan, ketimpangan relasi, atau munculnya perilaku agresif secara berulang,” jelas tim peneliti. Karena itu, sekolah dinilai perlu bergerak dari pola penanganan yang hanya reaktif menuju pencegahan berbasis asesmen dan pemetaan relasi sosial. Deteksi dini diharapkan membantu sekolah mengenali persoalan sebelum berkembang menjadi kasus yang lebih berat.
.png)
Meski demikian, hasil pemetaan tidak dimaksudkan untuk memberi label “pelaku”, “korban”, atau “siswa bermasalah”. Informasi yang diperoleh merupakan data awal yang perlu dikaji bersama observasi guru, wawancara, catatan layanan BK, serta komunikasi dengan siswa dan orang tua. Tujuannya bukan mencari siapa yang harus dipermalukan atau dihukum, tetapi memastikan setiap siswa memperoleh bantuan sesuai kebutuhannya. Korban membutuhkan perlindungan dan rasa aman, sedangkan siswa yang melakukan perundungan perlu dibantu mengembangkan empati, regulasi emosi, dan cara membangun hubungan sosial yang lebih sehat.
Hasil deteksi selanjutnya dapat digunakan guru BK untuk menentukan layanan yang lebih tepat, mulai dari konseling individual dan kelompok, bimbingan klasikal tentang empati dan komunikasi asertif, penguatan regulasi emosi, pendampingan korban, pelibatan orang tua, hingga rujukan kepada tenaga profesional. Pengembangan ini juga diperkuat melalui kolaborasi lintas bidang dan mitra akademik dari Universiti Kebangsaan Malaysia, dengan perhatian pada aspek keilmuan, bahasa, budaya, dan penerapan praktis. Harapannya, sekolah tidak hanya bergerak setelah perundungan terjadi, tetapi mampu mengenali tanda risiko lebih awal dan memastikan tidak ada siswa yang merasa sendirian ketika menghadapi perundungan.
- 0 Comment(s)
Comments
Please login to post a comment
0 comments