Konselor Juga Perlu Sehat Mental: Tim BK UM Kembangkan Program Mindfulness untuk Calon Konselor

Konselor Juga Perlu Sehat Mental: Tim BK UM Kembangkan Program Mindfulness untuk Calon Konselor

Solo, 25 Agustus 2026 — Kemampuan membantu orang lain tidak cukup hanya ditopang oleh keterampilan konseling. Seog calon konselor juga perlu memiliki kesadaran yang baik terhadap kondisi kesehatan mental dirinya sendiri. Berangkat dari kebutuhan tersebut, tim peneliti Bimbingan dan Konseling Universitas Negeri Malang (BK UM) mengembangkan program Mindfulness-Based Stress Reduction (MBSR) untuk meningkatkan self-awareness kesehatan mental calon konselor.


Penelitian ini merupakan penelitian tahun kedua yang memperoleh pendanaan dari DPPM. Tim peneliti terdiri atas Dr. Khairul Bariyyah, M.Pd.Kons, Riskiyana Prihatiningsih, M.Pd, Rizka Apriani, M.Pd, dan Herdhika Ayu Retno Kusumasari, M.Keb. Pada tahun pertama, penelitian telah menghasilkan model teoretik mengenai self-awareness kesehatan mental calon konselor serta instrumen pendukung yang dikembangkan sesuai dengan konteks Indonesia. Hasil tersebut selanjutnya menjadi landasan bagi tim untuk mengembangkan intervensi yang lebih aplikatif pada tahun kedua. Memasuki tahun kedua, penelitian difokuskan pada pengembangan prototipe intervensi berbasis Mindfulness-Based Stress Reduction (MBSR). Program dirancang untuk membantu calon konselor meningkatkan kemampuan mengenali pikiran, emosi, respons tubuh, tekanan psikologis, serta kebutuhan perawatan diri sebelum mereka memberikan layanan konseling kepada orang lain.

Menurut tim peneliti, self-awareness menjadi salah satu aspek penting dalam proses pendidikan calon konselor. Konselor tidak hanya dituntut mampu memahami konseli, tetapi juga perlu memahami kondisi dirinya sendiri. Kesadaran terhadap emosi, stres, dan respons personal dapat membantu calon konselor menjaga kualitas interaksi profesional serta mencegah beban psikologis yang berlebihan.



Proses pengembangan program dilakukan melalui beberapa tahapan, mulai dari penyusunan prototipe, validasi oleh ahli, implementasi awal, hingga evaluasi program. Validasi melibatkan ahli Bimbingan dan Konseling serta praktisi mindfulness untuk menilai kesesuaian materi, tujuan program, urutan kegiatan, bahasa instruksi, durasi latihan, keamanan aktivitas, serta keterterapan program bagi mahasiswa calon konselor.

Salah satu tahapan implementasi awal dilaksanakan pada 25 Agustus 2026 di Grand HAP Solo dengan melibatkan mahasiswa calon konselor dari Jawa Tengah. Dalam kegiatan tersebut, peserta mengikuti serangkaian aktivitas berbasis mindfulness yang diarahkan untuk meningkatkan kesadaran terhadap kondisi diri serta kemampuan mengelola stres secara lebih adaptif.

Kegiatan implementasi awal juga menjadi bagian penting dalam proses evaluasi program. Tim peneliti mengamati keterlaksanaan kegiatan, respons peserta, keberterimaan program, serta perubahan kondisi peserta setelah mengikuti intervensi. Hasil evaluasi tersebut akan digunakan sebagai dasar untuk menyempurnakan prototipe sebelum dikembangkan menjadi program yang lebih siap digunakan dalam pendidikan calon konselor.

Melalui pendekatan MBSR, mahasiswa calon konselor diajak untuk lebih sadar terhadap pengalaman saat ini, mengenali pikiran dan emosi tanpa memberikan penilaian secara berlebihan, serta mengembangkan respons yang lebih adaptif terhadap tekanan. Pendekatan ini diharapkan dapat membantu calon konselor membangun kebiasaan self-care sekaligus meningkatkan kesiapan mereka dalam menjalankan peran profesional.

Penelitian ini juga memiliki keterkaitan erat dengan agenda Sustainable Development Goals (SDGs). Secara utama, penelitian mendukung SDG 3: Good Health and Well-Being, khususnya dalam upaya promosi kesehatan mental, peningkatan kesadaran diri, dan pengelolaan stres pada mahasiswa.

Selain itu, penelitian juga berkontribusi pada SDG 4: Quality Education melalui pengembangan program berbasis penelitian yang dapat mendukung kualitas pendidikan calon konselor. Pendidikan konselor tidak hanya berorientasi pada penguasaan teori dan teknik konseling, tetapi juga pada kesiapan personal dan kesejahteraan psikologis mahasiswa sebagai calon profesional.

Pengembangan program ini menunjukkan bahwa perhatian terhadap kesehatan mental perlu dimulai sejak masa pendidikan. Calon konselor yang mampu memahami dan mengelola kondisi dirinya diharapkan memiliki kesiapan yang lebih baik ketika menghadapi dinamika konseli di masa depan.

Tim peneliti berharap program MBSR yang dikembangkan melalui penelitian ini dapat menjadi salah satu alternatif intervensi promotif dan preventif dalam pendidikan calon konselor di Indonesia. Setelah melalui tahap validasi, implementasi awal, evaluasi, dan penyempurnaan, program diharapkan dapat digunakan secara lebih luas di lingkungan perguruan tinggi penyelenggara pendidikan Bimbingan dan Konseling.

Dukungan pendanaan DPPM pada tahun kedua penelitian menjadi bagian penting dalam keberlanjutan pengembangan program tersebut. Melalui riset yang dilakukan secara bertahap dan berbasis bukti, tim BK Universitas Negeri Malang berupaya menghadirkan model intervensi yang tidak hanya memperkuat kompetensi calon konselor, tetapi juga menumbuhkan kesadaran bahwa konselor yang akan membantu orang lain juga perlu mampu menjaga kesehatan mental dirinya sendiri.

  • 0 Comment(s)