Universitas Negeri Malang Perkuat Kesejahteraan Psikologis Pekerja Migran Indonesia di Hong Kong melalui Program SEHATI

Universitas Negeri Malang Perkuat Kesejahteraan Psikologis Pekerja Migran Indonesia di Hong Kong melalui Program SEHATI


Hong Kong — Universitas Negeri Malang (UM) terus memperluas kontribusinya dalam mendukung kesejahteraan masyarakat Indonesia di luar negeri melalui pelaksanaan Program SEHATI (Sehat Jiwa dan Hati) bagi Pekerja Migran Indonesia (PMI) di Hong Kong. Program ini merupakan bentuk pengabdian kepada masyarakat yang berfokus pada peningkatan literasi kesehatan mental, penguatan ketahanan psikologis, serta pengembangan layanan pendampingan psikososial berbasis komunitas. Kegiatan tersebut menjadi salah satu langkah nyata perguruan tinggi dalam menghadirkan solusi terhadap tantangan psikologis yang dihadapi pekerja migran selama menjalani kehidupan dan pekerjaan di luar negeri.
Program pengabdian ini diketuai oleh Prof. Dr. Adi Atmoko, M.Si., M.Pd. dari Departemen Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang, melalui kerja sama dengan Persatuan Mahasiswa Universitas Terbuka Pokjar Hong Kong (PERMA UTHK). Kegiatan ini didanai oleh Dana Kemitraan Pendidikan Profesi Guru (PPG) Universitas Negeri Malang Tahun Anggaran 2026 melalui skema Pengabdian Kemitraan Luar Negeri (PKLN) Sekolah Pascasarjana. Dukungan pendanaan tersebut menjadi bagian dari komitmen UM dalam memperluas jangkauan pengabdian internasional sekaligus memperkuat kolaborasi dengan komunitas Indonesia di luar negeri.
Pelaksanaan Program SEHATI dilatarbelakangi oleh pentingnya perhatian terhadap kesehatan mental pekerja migran yang menghadapi beragam tantangan psikososial. Tuntutan pekerjaan, keterpisahan dengan keluarga, penyesuaian terhadap lingkungan sosial dan budaya, serta keterbatasan akses terhadap layanan psikologis dapat menjadi sumber tekanan yang memengaruhi kesejahteraan emosional. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya pendekatan pendampingan yang tidak hanya berfokus pada penanganan permasalahan psikologis, tetapi juga pada penguatan kemampuan individu dan komunitas dalam menjaga kesehatan mental secara berkelanjutan.
Sebagai langkah awal, tim pengabdian UM melakukan identifikasi kebutuhan melalui diskusi kelompok, wawancara, dan pengisian kuesioner untuk memperoleh gambaran mengenai kondisi psikososial serta kebutuhan pendampingan pekerja migran. Proses identifikasi ini menjadi dasar dalam merancang kegiatan yang relevan dengan karakteristik peserta, termasuk penguatan literasi kesehatan mental, keterampilan pengelolaan stres, kemampuan komunikasi empatik, dan pengembangan dukungan sosial. Pendekatan berbasis kebutuhan tersebut diharapkan dapat menjadikan layanan lebih kontekstual dan mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu kegiatan utama dalam Program SEHATI adalah pelaksanaan skrining kesehatan mental terhadap 54 Pekerja Migran Indonesia menggunakan instrumen Depression Anxiety Stress Scales (DASS-21). Skrining ini dilakukan untuk memperoleh gambaran awal mengenai gejala depresi, kecemasan, dan stres yang dialami peserta. Hasilnya menunjukkan bahwa sebagian besar peserta berada dalam kategori normal, namun terdapat pula sejumlah peserta dengan tingkat gejala psikologis sedang hingga sangat berat. Temuan tersebut memperlihatkan pentingnya penyediaan dukungan kesehatan mental yang mudah diakses oleh pekerja migran, terutama bagi individu yang mengalami tekanan psikologis dan membutuhkan pendampingan lebih lanjut.
Menindaklanjuti hasil skrining, tim UM menyelenggarakan kegiatan psikoedukasi yang membahas pengenalan masalah kesehatan mental, strategi pengelolaan stres, penguatan mekanisme koping adaptif, serta pemanfaatan dukungan sosial dalam menghadapi tantangan kehidupan di luar negeri. Peserta juga memperoleh panduan self-help yang dapat digunakan secara mandiri untuk mengenali kondisi emosional dan menerapkan strategi sederhana dalam menjaga kesejahteraan psikologis. Selain itu, layanan konseling individual diberikan kepada peserta yang membutuhkan pendampingan lebih personal dengan tetap memperhatikan prinsip kerahasiaan, empati, dan profesionalitas. Bagi peserta yang menunjukkan indikasi permasalahan psikologis serius, disiapkan mekanisme rujukan kepada tenaga profesional sesuai kebutuhan.
Tidak hanya memberikan layanan langsung kepada pekerja migran, Program SEHATI juga menekankan pemberdayaan komunitas melalui penguatan kapasitas guru pendamping. Dalam kegiatan ini, guru komunitas dibekali pengetahuan dan keterampilan dasar untuk mengenali tanda-tanda permasalahan psikologis, membangun komunikasi yang suportif, memberikan dukungan emosional awal, serta memahami batasan peran dan prosedur rujukan kepada tenaga profesional. Penguatan kapasitas tersebut menjadi bagian penting dalam membangun lingkungan komunitas yang lebih responsif terhadap kebutuhan kesehatan mental anggotanya.
Untuk mendukung keberlanjutan kegiatan, tim pengabdian mengembangkan Modul Pelatihan Guru Pendamping Kesehatan Mental PMI dan Buku Panduan Model Layanan SEHATI. Kedua perangkat tersebut dirancang sebagai sumber belajar dan pedoman praktis bagi pendamping komunitas dalam melaksanakan edukasi serta dukungan psikososial. Melalui penyediaan perangkat ini, manfaat program diharapkan tidak berhenti pada pelaksanaan kegiatan, tetapi dapat dilanjutkan secara mandiri oleh komunitas dengan tetap menjalin koordinasi bersama pihak-pihak yang memiliki kompetensi profesional dalam bidang kesehatan mental.
Program SEHATI juga menjadi wujud kontribusi Universitas Negeri Malang terhadap pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3 (Good Health and Well-Being), SDG 4 (Quality Education), dan SDG 17 (Partnerships for the Goals). Kontribusi terhadap SDG 3 diwujudkan melalui upaya peningkatan kesehatan mental dan kesejahteraan pekerja migran melalui skrining psikologis, psikoedukasi, konseling, dan penguatan dukungan psikososial. Kegiatan ini sejalan dengan Target 3.4 yang menekankan pentingnya promosi kesehatan mental dan kesejahteraan sebagai bagian dari pembangunan kesehatan yang berkelanjutan.
Dalam mendukung SDG 4, Program SEHATI menghadirkan pembelajaran dan penguatan kompetensi melalui pelatihan guru komunitas serta pengembangan modul pendampingan kesehatan mental. Upaya ini membuka kesempatan bagi masyarakat untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan kehidupan sehari-hari. Sementara itu, kontribusi terhadap SDG 17 diwujudkan melalui kerja sama antara Universitas Negeri Malang dan PERMA UTHK yang memperlihatkan pentingnya kemitraan internasional dalam memperluas akses pengetahuan, meningkatkan kapasitas masyarakat, dan mengembangkan solusi bersama terhadap persoalan sosial.
Kolaborasi tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam mendukung masyarakat Indonesia di luar negeri melalui penerapan hasil pendidikan, penelitian, dan keahlian akademik. Melalui skema Pengabdian Kemitraan Luar Negeri (PKLN), Universitas Negeri Malang mendorong kegiatan pengabdian yang tidak hanya menghasilkan manfaat langsung bagi peserta, tetapi juga memperkuat hubungan kelembagaan dan membuka peluang pengembangan program serupa di berbagai komunitas internasional.

Pelaksanaan Program SEHATI di Hong Kong menjadi salah satu contoh penerapan keilmuan bimbingan dan konseling dalam menjawab kebutuhan masyarakat secara nyata. Integrasi antara asesmen psikologis, edukasi kesehatan mental, layanan konseling, serta pemberdayaan pendamping komunitas menunjukkan bahwa dukungan terhadap kesejahteraan psikologis memerlukan pendekatan yang menyeluruh dan berkelanjutan. Dengan melibatkan komunitas sebagai mitra aktif, program ini diharapkan mampu mendorong tumbuhnya kesadaran kolektif mengenai pentingnya menjaga kesehatan mental di lingkungan pekerja migran.
Melalui Program SEHATI, Universitas Negeri Malang menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan pengabdian kepada masyarakat yang berdampak, inklusif, dan berorientasi pada keberlanjutan. Dukungan pendanaan PPG UM Tahun Anggaran 2026 melalui skema PKLN Sekolah Pascasarjana menjadi penguatan bagi perguruan tinggi untuk memperluas kontribusi akademik hingga tingkat internasional. Program ini diharapkan dapat menjadi pijakan bagi pengembangan model layanan kesehatan mental berbasis komunitas yang dapat diterapkan pada kelompok pekerja migran Indonesia di berbagai negara, sekaligus mendukung terwujudnya masyarakat yang lebih sehat, tangguh, dan sejahtera sesuai dengan agenda pembangunan berkelanjutan.
  • 0 Comment(s)